Rangkaian Acara Tasyakuran Memetri Bumi Tahun Baru Hijriah 1448
CILACAP, 10 JULI 2026 – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah 1448 H sekaligus menjaga serta melestarikan adat budaya leluhur, Pemerintah Desa Bumireja, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, menggelar acara adat Tasyakuran Memetri Bumi.
Puncak dari rangkaian kegiatan syukuran tahunan ini dimeriahkan dengan menggelar Pagelaran Wayang Kulit yang berlangsung khidmat dan semarak pada Jum’at malam (10/07/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara adat yang dipusatkan di balai desa setempat ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Bumireja, Bambang Imam Turmudi, beserta seluruh jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.
Turut hadir memenuhi undangan dalam acara malam puncak tersebut unsur Forkopimcam Kedungreja, di antaranya Camat Kedungreja Kukuh Setiaji, S.IP., M.M., Kapolsek Kedungreja Iptu Badrun, S.H., serta Danramil 12/Kedungreja yang dalam hal ini diwakili oleh Babinsa setempat.
Selain itu, hadir pula perwakilan dari Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Kedungreja beserta ratusan warga masyarakat yang sangat antusias memadati lokasi pertunjukan.
Sebelum pertunjukan dimulai, dilakukan prosesi sakral berupa penyerahan tokoh wayang kulit secara simbolis oleh Kepala Desa Bumireja, Bambang Imam Turmudi, kepada sang dalang, Ki Panggung Bayu Aji.
Penyerahan tokoh wayang ini menandai dibukanya kelir dan dimulainya pagelaran secara resmi, sekaligus menjadi simbol penyerahan amanah serta doa keselamatan agar pertunjukan malam itu berjalan lancar dan membawa berkah bagi seluruh penonton.
Pagelaran wayang kulit pada malam puncak ini membawakan lakon “Pendawa Syukur”, sebuah kisah pewayangan yang sarat akan makna filosofis mengenai rasa syukur mendalam, persatuan, gotong royong, serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Pertunjukan spiritual dan kultural ini disajikan secara apik oleh Ki Panggung Bayu Aji, yang sukses memukau penonton melalui kepiawaiannya memainkan jemari dan menghidupkan karakter setiap tokoh pewayangan.
Pihak panitia penyelenggara juga menyematkan untaian kalimat mutiara falsafah Jawa pada banner utama kegiatan sebagai media refleksi bersama bagi warga Desa
Bumireja:
“Eling lan Waspada, Sadar lan Sabar, Satiti lan Ngabekti, Sumeleh Tur Sareh”
(Ingat dan waspada, sadar dan sabar, teliti dan berbakti, berserah diri secara ikhlas serta berhati tenang).
Kepala Desa Bumireja, Bambang Imam Turmudi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Memetri Bumi ini bukan sekadar rutinitas adat tahunan ataupun hiburan rakyat semata.
Agenda besar ini merupakan wujud ekspresi syukur kolektif seluruh warga atas limpahan berkah, keselamatan, ketenteraman, serta hasil bumi yang melimpah selama setahun terakhir, sekaligus momentum doa bersama agar Desa Bumireja senantiasa diberkahi, dijauhkan dari marabahaya, dan warganya semakin sejahtera di tahun baru Islam 1448 H ini.
Kehadiran jajaran Forkopimcam Kedungreja dan Paguyuban Kepala Desa dalam acara ini juga menunjukkan kuatnya sinergitas antar-instansi serta solidaritas antar-kepala desa di wilayah Kedungreja dalam mendukung pelestarian adat lokal.
Selain memiliki dimensi spiritual dan sosial, pagelaran seni tradisional ini menjadi pilar penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga serta sebagai upaya nyata menyosialisasikan, mengedukasi, dan melestarikan warisan agung kebudayaan wayang kulit agar tetap dicintai oleh generasi muda di era modern.(Red)








