CILACAP, 18 JULI 2026 – Upaya nyata dalam menjaga ketahanan pangan dan mengantisipasi dampak kekeringan musiman terus digulirkan di tingkat daerah.
Proyek pembangunan infrastruktur Irigasi Perpompaan (IRPOM) di kawasan Rawaapu, Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, kini resmi memasuki tahap pelaksanaan fisik di lapangan.
Proyek strategis ini direalisasikan melalui stimulus dana APBN Kementerian Pertanian Republik Indonesia, di bawah pembinaan teknis Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian Kelas I Bandung, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keberadaan program IRPOM ini ditargetkan mampu mengairi sekaligus mengoptimalkan potensi oncoran lahan persawahan warga hingga mencapai luas 20 hektar.
Guna memastikan keterlibatan masyarakat dan transparansi anggaran, pengerjaan proyek dengan total nilai Rp155.700.000,- (Seratus Lima Puluh Lima Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah) ini diserahkan sepenuhnya secara swakelola kepada Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan Kelompok Tani (UPKK KT) Puji Rahayu 1.

Sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) yang diterbitkan, jangka waktu pelaksanaan ditetapkan selama 210 hari kalender, dimulai sejak 11 Mei 2026 hingga target rampung pada 31 Desember 2026 mendatang.
Ketua Kelompok Tani Puji Rahayu 1, Bapak Anton, menegaskan komitmen penuh seluruh pengurus beserta anggota kelompok tani untuk menjaga akuntabilitas dan kualitas dari prasarana pertanian yang sedang dibangun tersebut.
“Kami selaku pelaksana swakelola di lapangan mengemban amanah ini dengan penuh tanggung jawab.
Pengurus dan seluruh anggota UPKK KT Puji Rahayu 1 berkomitmen dan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi seluruh spesifikasi pengerjaan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan. Kami ingin memastikan kualitas bangunan irigasi ini kokoh dan presisi,
sehingga fungsionalitasnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat tani di Desa Rawaapu,” tegas Bapak Anton saat memberikan keterangan di lokasi pemasangan papan informasi proyek.
Selama ini, ketergantungan pasokan air pada tadah hujan kerap membatasi produktivitas lahan sawah di wilayah Desa Rawaapu, terutama saat memasuki musim kemarau berkepanjangan.
Dengan hadirnya sistem irigasi perpompaan ini, masyarakat optimis indeks pertanaman (IP) di kawasan tersebut dapat ditingkatkan dari yang semula hanya mampu sekali panen dalam setahun, menjadi dua hingga tiga kali masa tanam.
Pihak Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian bersama pendamping teknis daerah juga dijadwalkan akan terus mengawal jalannya monitoring berkala di lapangan.
Langkah ini diambil guna memastikan seluruh tahapan fisik maupun pelaporan administratif berjalan sesuai dengan petunjuk teknis (Juknis) Kementerian Pertanian demi mewujudkan tata kelola pertanian yang akuntabel dan berdaya guna.(Red)








