CILACAP29/7/2026 – Pelaksanaan proyek fisik Irigasi Perpompaan (IRPOM) oleh Kelompok Tani (Poktan) Sari Makmur di Desa Kutosari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, mendatangkan sorotan dari wartawan Media Cahaya Nusantara.
Sorotan publik tertuju pada terhambatnya penyediaan mesin pengaduk beton (concrete mixer/molen) sejak awal pengerjaan, yang berpotensi memengaruhi mutu serta daya tahan bangunan irigasi tersebut.
Berdasarkan investigasi wartawan di lapangan, proses pengecoran pada tahap awal—atau hingga progres mencapai sekitar 50 persen—dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mesin molen baru dihadirkan dan dioperasikan setelah separuh pekerjaan fisik selesai berjalan.
Ketua Poktan Sari Makmur, Hasanuddin, mengonfirmasi kondisi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kendala utama keterlambatan penggunaan alat terletak pada sulitnya akses sewa mesin di
wilayah setempat.
“Alat molen baru bisa didatangkan ketika pekerjaan sudah berjalan sekitar setengah proses karena kami kesulitan mendapatkan sewaan alat di wilayah ini,” terang Hasanuddin saat dikonfirmasi.
Analisis Teknis & Metodologi: Benarkah Pengecoran Manual?
Ditinjau dari standar keteknikan konstruksi beton (SNI dan Petunjuk Teknis Pembangunan Fasilitas Pertanian/PUPR), pengadukan semen secara manual (hand mixing) untuk struktur fisik utama pada dasarnya tidak direkomendasikan, kecuali untuk pengerjaan non-struktural atau skala minor.
Penggunaan dua metode yang berbeda (manual lalu berganti ke mesin) dalam satu kesatuan struktur memiliki
beberapa kelemahan teknis:
Rendahnya Homogenitas &
Risiko Segregasi:
Pengadukan manual bergantung pada konsistensi dan stamina tenaga kerja.
Risikonya, rasio air dan semen (water-cement ratio) tidak terukur dengan presisi, yang memicu keretakan, keropos (honeycomb), hingga pemisahan material (segregasi) antara semen, pasir, dan batu pecah.
Sebaliknya, mesin molen menjamin adukan homogen dengan waktu putar yang stabil.
Potensi Celah Sambungan (Cold Joint):
Perbedaan jeda waktu dan konsistensi adukan antara pengecoran manual dan pengecoran mesin dapat menimbulkan batas sambungan dingin (cold joint).
Celah ini menjadi titik paling lemah pada bangunan irigasi yang rentan retak serta bocor saat menahan tekanan air.
Perbedaan Ketahanan Mutu Beton (Compressive Strength):
Bangunan fisik idealnya memiliki nilai kuat tekan yang seragam di seluruh bagian.
Pengecoran campuran manual berpotensi menghasilkan mutu beton yang lebih rendah dibandingkan hasil adukan molen, sehingga daya tahan bangunan dalam jangka panjang dipertanyakan.
Pengawasan Lapangan dan Akuntabilitas
Meski secara metodologi pengerjaan awal tidak ideal, belum terdapat hasil uji teknis resmi (seperti hammer test atau core drill) dari dinas/konsultan pengawas yang menyatakan struktur tersebut gagal mutu atau tak memenuhi spesifikasi.
Oleh sebab itu, tingkat kelayakan bangunan ini masih memerlukan pembuktian berbasis evaluasi teknis lapangan.
Media Cahaya Nusantara mendorong instansi terkait, konsultan pengawas, dan Tim Teknis Dinas Pertanian untuk turun ke lapangan guna melakukan pengujian serta memberikan pembinaan.
Langkah evaluasi dan keterbukaan informasi ini sangat penting untuk memastikan anggaran negara dimanfaatkan secara akuntabel, tepat mutu, serta memberikan manfaat irigasi yang optimal bagi para petani Desa Kutosari.
Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Media Cahaya Nusantara tetap memegang teguh prinsip cover both sides serta menyediakan ruang Hak Jawab dan Hak Koreksi bagi Kelompok Tani Sari Makmur maupun instansi pemerintah terkait.(Panji)








