PANGANDARAN 18/8/2026– Polemik rencana pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pangandaran yang sempat memanas di ruang publik mulai mereda. Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin Padaherang, KH Luthfi Fauzi, menyampaikan permohonan maaf sekaligus memberikan klarifikasi atas pernyataan dan unggahan yang sebelumnya turut memicu perbincangan mengenai rencana pendirian perguruan tinggi tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Permintaan maaf itu disampaikan KH Luthfi Fauzi melalui pesan WhatsApp pada Senin (17/8/2026). Ia mengakui bahwa pernyataan yang disampaikannya dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
«“Perencanaan IAIN Pangandaran sudah lama dan sudah banyak yang terlibat. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua yang terlibat dan yang membaca postingan saya, yang minggu-minggu ini bikin gaduh,” ujar KH Luthfi.»
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud mengganggu proses yang selama ini telah berjalan. Menurutnya, rencana pendirian IAIN Pangandaran merupakan proses panjang yang telah melibatkan berbagai pihak.
KH Luthfi juga menyatakan bahwa dirinya merupakan bagian dari keluarga besar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Karena itu, ia berharap proses pendirian IAIN Pangandaran dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya secara pribadi yang merupakan keluarga besar PTKIS dan PTKIN mendoakan semoga semuanya berjalan sesuai rencana, bermanfaat bagi semua dan mendapatkan ridlo Allah SWT,” katanya.
Berharap Polemik IAIN Pangandaran Tak Ganggu Silaturahmi
Selain menyampaikan permohonan maaf, KH Luthfi Fauzi juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam proses perencanaan IAIN Pangandaran.
Ia berharap perbedaan pandangan yang sempat muncul tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu hubungan antarpihak, terutama di lingkungan masyarakat dan kalangan pendidikan.
“Mohon maaf. Terima kasih. Salam silaturahmi dan salam hormat,” ujarnya.
KH Luthfi menilai keberadaan perguruan tinggi keagamaan memiliki arti penting bagi keberlanjutan pendidikan para santri dan lulusan pesantren. Selama ini, pesantren menurutnya turut mendorong para santri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Ia juga menyebut Ksatria Nusantara Pesantren Riyadussalikin sebagai salah satu bagian dari lingkungan pesantren yang berkontribusi dalam mendorong lulusan melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, baik PTKIS maupun PTKIN.
“Ksatria Nusantara Pesantren Riyadussalikin merupakan penyumbang terbanyak di Kabupaten Pangandaran yang meneruskan ke PTKIS/PTKIN atau IAIN, UIN,” katanya.
Klarifikasi di Tengah Pembahasan IAIN Pangandaran
Sebelumnya, KH Luthfi Fauzi memang sempat menyampaikan sejumlah pandangan terkait rencana pendirian IAIN Pangandaran dan meminta agar rencana tersebut dikaji secara komprehensif.
Kini, melalui klarifikasi terbarunya, ia menegaskan pentingnya menjaga suasana tetap kondusif. Ia berharap seluruh pihak dapat mengedepankan komunikasi, silaturahmi, serta kepentingan pendidikan masyarakat dalam membahas masa depan perguruan tinggi Islam di Kabupaten Pangandaran.
Pernyataan tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam dinamika rencana pendirian IAIN Pangandaran, yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian publik dan mendapat beragam tanggapan dari berbagai kalangan.
Dengan adanya permintaan maaf dan klarifikasi tersebut, pembahasan mengenai IAIN Pangandaran diharapkan dapat kembali berlangsung secara konstruktif, terbuka, dan berorientasi pada kepentingan peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Pangandaran.
Ruspandi: Polemik IAIN Pangandaran Sudah Clear
Senada dengan KH Luthfi Fauzi, Kepala Desa Cikalong, Ruspandi, membenarkan bahwa polemik terkait rencana pendirian IAIN Pangandaran kini telah mereda. Menurutnya, persoalan tersebut sudah mendapatkan titik terang setelah KH Luthfi menyampaikan permohonan maaf.
“Iya, sudah clear dan sudah minta maaf,” ujar Ruspandi saat dikonfirmasi pada Selasa (18/8/2026).
Pernyataan Ruspandi mempertegas bahwa dinamika yang sempat berkembang di tengah masyarakat tidak perlu lagi diperpanjang. Ia menilai klarifikasi dan permintaan maaf dari KH Luthfi menjadi langkah penting untuk mengakhiri kesalahpahaman yang muncul dalam pembahasan rencana pendirian IAIN Pangandaran.
Dengan adanya kepastian tersebut, pembahasan mengenai rencana IAIN Pangandaran diharapkan dapat kembali fokus pada substansi, yakni upaya menghadirkan akses pendidikan tinggi keagamaan bagi masyarakat Kabupaten Pangandaran.
Sysfarras












