SIDAREJA, CILACAP23/7/2026 — Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menopang hidup di atas dua pedal becak.
Bagi Badlan, pria asli Cikalong, Kecamatan Sidareja, becak tua itu bukan sekadar besi beroda tiga, melainkan napas dan satu-satunya tumpuan hidup keluarga yang ia kayuh sejak tahun 2001 hingga hari ini.
Namun, roda nasib kian hari terasa kian berat berputar. Dulu, tetesan keringatnya masih terbayar setimpal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengantongi uang Rp50.000 per hari adalah hal biasa untuk membawakan sepiring nasi dan menafkahi anak laki-laki semata karangnya. Kini, cerita manis itu telah menguap ditelan kemajuan zaman.
Saat diwawancarai oleh awak media di sela-sela penantian panjangnya menunggu penumpang di sudut jalan Sidareja, suara Badlan terdengar bergetar menahan pilu. Tatapan matanya nanar menatap jalanan yang kian sepi dari pelanggan.
“Dulu Rp50 ribu sehari masih bisa dibawa pulang untuk makan anak dan keluarga.
Sekarang? Kadang ada yang naik, tapi seringnya tidak dapat uang sama sekali.
Mau kerja apa lagi? Saya tidak punya pekerjaan lain,” tutur Badlan dengan nada memelas kepada awak media.
Terjepit Kebutuhan, Terlewatkan Bantuan
Tanpa keahlian lain dan tanpa modal usaha, Badlan tak memiliki pilihan selain tetap bertahan di atas sadel becaknya.
Di tengah situasi ekonomi yang kian mencekik, harapan mendapat uluran tangan dari pemerintah justru kerap berbuah kekecewaan.
Kepada awak media, ia membeberkan pahitnya kenyataan mengenai bantuan sosial yang tak kunjung
berpihak padanya:
Bantuan Operasional Becak: Tak pernah sekalipun ia rasakan sejak awal menarik becak.
Terputusnya Bantuan PKH: Sempat terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), namun haknya mendadak terhenti di tengah jalan tanpa kejelasan alasan.
Bantuan Pangan Seadanya: Bantuan terakhir yang ia terima hanyalah dua kantong beras dan minyak goreng pada bulan Mei lalu—uluran tangan sesaat yang kini sudah lama habis tak berbekas.
Menanti Kepedulian di Ujung Kayuhan
Kisah Badlan adalah potret nyata rakyat kecil di pelosok daerah yang tergerus zaman dan luput dari jangkauan jaring pengaman sosial.
Di usianya yang makin senja, Badlan terus mengayuh bukan karena masih kuat, melainkan karena tak ada pilihan lain agar dapur rumahnya tetap mengepul.
Melalui liputan ini, terselip harapan besar agar pihak-pihak terkait—baik dinas sosial, pemerintah daerah, maupun para dermawan—dapat membuka mata dan hati untuk memberikan perhatian serta bantuan nyata bagi Pak Badlan.(Red)












