WAY KANAN 26/9/2026– Lubang bekas pekerjaan perbaikan jalan di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kampung Umpu Kencana, Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Lampung, terus mengancam keselamatan pengguna jalan. Terbaru, seorang tenaga kesehatan (nakes) menjadi korban kecelakaan di lokasi tersebut pada Jumat malam (18/9/2026).
Korban terbaru diketahui bernama Imam Wahidin Munthe, seorang tenaga kesehatan di RSUD Zainal Abidin Pagar Alam. Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 20.10 WIB saat ia tengah dalam perjalanan menuju tempatnya bekerja menggunakan sepeda motor.
“Saya berangkat kerja sekitar jam 08.00 malam dan mengalami kecelakaan sekitar pukul 20.10 WIB di Jalinsum kawasan SP3, Kampung Umpu Kencana,” ujar Imam, Jumat malam (18/9).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibat peristiwa itu, Imam mengalami luka lecet pada lengan kanan, kaki, serta telapak tangan kiri, sementara sepeda motor yang dikendarainya mengalami kerusakan. Menurut catatan warga dan penuturan korban, ia merupakan korban ke-10 yang jatuh akibat lubang jalan yang terbengkalai tersebut.
Imam menyayangkan kondisi pengerjaan jalan yang ditinggalkan tanpa penanganan cepat. Berdasarkan informasi dari warga setempat, beberapa korban terdahulu bahkan mengalami cedera serius.
“Sebelum saya, ada korban yang kondisinya cukup parah hingga harus dirujuk untuk mendapatkan perawatan lanjutan di RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung. Harapannya, kalau jalan sudah digali, harus segera diperbaiki dan jangan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.
Keluhan dan Inisiatif Warga Sekitar
Keluhan serupa disampaikan oleh Simatupang, warga yang bermukim di sekitar lokasi kejadian. Ia membenarkan bahwa lubang pengerjaan jalan tersebut sudah terbengkalai selama hampir satu pekan dan sangat membahayakan, khususnya bagi pengendara sepeda motor pada malam hari.
“Sudah sering terjadi. Ini sudah korban ke-10, motor jatuh di sini. Bahkan sekitar tiga hari lalu ada yang parah sekali sampai keluar darah dari telinganya,” ungkap Simatupang.
Prihatin dengan kondisi tersebut, Simatupang berinisiatif memasang tanda peringatan secara mandiri hampir setiap hari. Namun, penanda darurat itu sering kali rusak atau bergeser karena tersenggol kendaraan roda empat yang melintas.
Warga mendesak pihak kontraktor atau instansi terkait untuk tidak menelantarkan lubang bekas galian tanpa pengamanan yang memadai, serta segera menyelesaikan perbaikan jalan sebelum memakan lebih banyak korban jiwa.”Kalau menggali jalan, tolong diberi tanda keselamatan yang jelas. Jangan asal dikorek lalu ditinggal begitu saja hingga memakan korban,” pungkas warga .
Mukhlis.












