15 Tahun Sebelum Tsunami Pangandaran, Anton Mengaku Sudah Diperingatkan Wisatawan Asing

- Penulis

Kamis, 10 September 2026 - 13:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PANGANDARAN 10/9/2026— Lima belas tahun sebelum tsunami menerjang pesisir Pangandaran pada 17 Juli 2006, Anton mengaku pernah mendapat pesan tidak biasa dari delapan wisatawan asing yang ditemuinya saat menjadi pemandu wisata.

Pesan itu baru kembali terlintas dalam ingatannya ketika pada Senin sore, 17 Juli 2006, Anton menyaksikan sendiri gelombang laut berukuran besar bergerak dari tengah laut menuju daratan.

Pengalaman tersebut diceritakan Anton kepada awak media pada Kamis (10/9/2026). Ia mengisahkan kembali peristiwa yang dialaminya, termasuk percakapan dengan delapan wisatawan asing pada 1991 dan detik-detik ketika tsunami datang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Anton, pada 1991 dirinya bekerja sebagai pemandu wisata di Pangandaran. Saat itu ia bertemu dengan delapan pria wisatawan asal Inggris, Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru.

Selama kurang lebih satu minggu, Anton menemani mereka melakukan berbagai aktivitas di Pangandaran.

Suatu malam, seusai makan malam di sebuah restoran di kawasan Nanjung, Pantai Barat Pangandaran, percakapan mereka berubah serius.

Anton mengaku, para pria tersebut menyampaikan bahwa mereka merupakan tentara dan baru menyelesaikan pendidikan militer di Sesko Bandung.

Kemudian, salah seorang dari mereka memberikan pesan kepada Anton.

Anton, kan kita kawan baik. Demi keselamatan jiwa kamu, kami minta agar 15 tahun ke depan, kalau dihitung dari tahun 1991, kamu harus keluar dari wilayah pantai,” kata Anton mengenang percakapan tersebut.»

Anton mengaku saat itu tidak terlalu memikirkan pesan tersebut. Bahkan, ia sempat bertanya mengenai alasan dirinya harus meninggalkan kawasan pantai.

Menurut Anton, para pria tersebut menyebut adanya kemungkinan tsunami yang akan menerjang kawasan Pangandaran.

Akan terjadi tsunami di area ini, gelombang besar akan menghantam pesisir bagian barat Pangandaran,” ujar Anton menirukan ucapan mereka.»

Ia kembali diingatkan agar sekitar 15 tahun kemudian, atau sekitar 2006, tidak lagi tinggal maupun terlalu sering berada di kawasan pantai.

Pokoknya dihitung dari sekarang, tahun 1991 menuju 15 tahun ke depan, sekitar tahun 2006, kamu harus tinggal di luar pantai Pangandaran. Kalau kamu tetap hanging around di pinggir pantai itu berbahaya. Kamu bisa mati. Ini serius, Anton,” tutur Anton.»

Meski demikian, Anton mengatakan pesan tersebut kemudian terlupakan karena kehidupan terus berjalan.

Hingga akhirnya tahun 2006 tiba.

Dentuman dari Tengah Laut

Pada Senin sore, 17 Juli 2006, Anton sedang dalam perjalanan pulang dari Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga:  BBWS Citanduy Responsif Perbaiki Bronjong Cibatu, Oknum Pelaksana Malah Berkata Kurang Sopan

Ketika berada di kawasan pesisir Ciparanti, Anton berhenti dan mencoba mencari sinyal telepon seluler menggunakan ponsel Nokia miliknya.

Saat berdiri menghadap laut, tiba-tiba ia mendengar suara dentuman keras dari arah tengah laut.

Deum,” demikian Anton menggambarkan suara tersebut.

Tidak hanya mendengar suara, Anton juga merasakan tanah yang dipijaknya bergetar.

Ia kemudian menatap ke arah laut.

Dari kejauhan, Anton melihat sesuatu berwarna hitam pekat dan menjulang tinggi. Sekilas, ia mengira benda tersebut seperti gunung.

Namun, dalam hitungan detik, Anton menyadari bahwa benda hitam itu bergerak mendekati daratan.

Dalam hitungan detik saya baru sadar, itu ketinggian ombak. Ombaknya menggulung dan terus semakin mendekat,” kata Anton.»

Menyadari dirinya berada dalam bahaya, Anton langsung berlari menuju sepeda motornya.

Yamaha RX King miliknya segera dinyalakan. Ia kemudian memacu kendaraan meninggalkan kawasan pesisir.

Melihat Warga Berlarian Menyelamatkan Diri

Anton melanjutkan perjalanan menuju Cibenda.

Di wilayah tersebut, suasana sudah berubah menjadi kepanikan. Warga terlihat berlarian menyelamatkan diri. Sebagian menangis, sementara lainnya berusaha menjauh dari kawasan pantai.

Anton kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bulak Laut Japuh, Cikembulan.

Di sepanjang perjalanan, ia melihat rumah-rumah berserakan dan mengalami kerusakan akibat terjangan air laut.

Warga terus bergerak menjauh dari pesisir.

Dari situ, Anton semakin menyadari bahwa gelombang besar yang sebelumnya dilihatnya dari kejauhan merupakan tsunami.

Peristiwa tsunami 17 Juli 2006 kemudian menjadi salah satu bencana yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat pesisir Pangandaran.

Bagi Anton, tragedi tersebut memiliki sisi lain yang tidak pernah dilupakannya.

Pesan yang diterimanya pada 1991, tepat 15 tahun sebelum bencana, kembali muncul dalam ingatannya setelah ia menyaksikan sendiri gelombang besar menerjang pesisir.

Kepada awak media pada Kamis (10/9/2026), Anton mengatakan pengalaman tersebut masih melekat kuat dalam ingatannya hingga kini.

Namun, kisah mengenai peringatan pada 1991 tersebut merupakan kesaksian dan pengalaman pribadi Anton. Tidak terdapat bukti independen yang dapat memastikan bahwa percakapan dengan delapan wisatawan asing itu merupakan prediksi ilmiah mengenai tsunami.

Yang pasti, Anton menjadi salah satu orang yang menyaksikan langsung bagaimana gelombang besar datang dari tengah laut pada sore 17 Juli 2006.

Lima belas tahun setelah pesan itu disampaikan, Anton akhirnya melihat sendiri laut Pangandaran berubah menjadi gelombang besar yang bergerak menuju daratan.

Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang, menurut Anton, tidak pernah hilang dari ingatannya.

red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediacahayanusantara.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di duga pungutan 10 Ribu per siswa di SDN 2 Pejagoan dikeluhkan beberapa wali murid
Kejaksaan Agung Tetapkan Dirut PT CNI Sebagai Tersangka Kasus Korupsi Tata Kelola Nikel
Polisi Sahabat Anak, Polres Pangandaran Sambut Kunjungan Outing Class SLB Negeri Widi Asih Parigi
Soal Proyek Sumur Bor Rp 56 Juta: Kakam Bali Sadhar Tengah Bungkam
Polisi Bersama Masyarakat, Kapolda Jateng Ajak Warga Lawan Premanisme dengan Berani Melapor*
Tim Penyidik JAM PIDSUS Periksa 2 Orang Saksi Terkait Perkara Tambang Batubara PT CCM
Kejagung Usut Korupsi Tambang Batubara PT CCM, Mantan Kadis Nunukan dan Pejabat KLH Diperiksa
Meriahkan Hari Sumpah Pemuda, Ratusan Peserta dari Berbagai Daerah Unjuk Kebolehan dalam Lomba Layang-Layang
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Di duga pungutan 10 Ribu per siswa di SDN 2 Pejagoan dikeluhkan beberapa wali murid

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:04 WIB

Kejaksaan Agung Tetapkan Dirut PT CNI Sebagai Tersangka Kasus Korupsi Tata Kelola Nikel

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:47 WIB

Polisi Sahabat Anak, Polres Pangandaran Sambut Kunjungan Outing Class SLB Negeri Widi Asih Parigi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Soal Proyek Sumur Bor Rp 56 Juta: Kakam Bali Sadhar Tengah Bungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 04:47 WIB

Polisi Bersama Masyarakat, Kapolda Jateng Ajak Warga Lawan Premanisme dengan Berani Melapor*

Berita Terbaru

Uncategorized

Soal Proyek Sumur Bor Rp 56 Juta: Kakam Bali Sadhar Tengah Bungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 07:09 WIB